PREM BHANDAN EPSODE 6 PENULIS SINOPSIS DAN INTERPRETASI MADE TITIS MAERANI, S. Pd
Ep 06
PENULIS NASKAH DAN INTERPETASIS SINOPSIS BYM ADE TITIS MAERANI, SPd
DANGAL TV CHENNEL
Prem Bandhan Full Episode – 06
Ketika nyawa Nisha sedang dalam bahaya kerana telah meminum racun, Janki memberitahu ibunya bahwa ia tidak bisa membelikan sepeda motor karena telah kehilangan pekerjaannya sehingga membuat ibu tirinya (Asha) menjadi tambah marah.
Ayah Harsh, Ram Shastri memanggil Janaki ke ruangannya dan mempelajari kebenaran tentang Shyam, setelah itu dia menyimpan lamaran pernikahan di depannya untuk menjadikannya sebagai menantu perempuan dan menikahi Harsh, tetapi Janaki menolak tawaran itu, Ram menyerahkan surat bergabungnya dan memecat Shyam. Kemudian, Ram memberinya waktu untuk memikirkannya, tetapi dia berada dalam dilema bahwa ia masih sangat mencintai Ashok
Setelah Nisha meminum Racun, keluarganya membawanya kerumah sakit, tim medis langsung menanganinya. Srivastav menopang tubuh Asha yang akan pingsan, Asha terus menangis memanggil nama pitrinya “Nisha ku”.., siapakah yang akan menyelamatkannya?”. Sirivastav meyakinkan Asha bahwa Nisha pasti akan baik-baik saja.
Janki datang kerumah sakit dan melihat dari sisi kaca bahwa nisha sedang ditangani oleh tim medis, ia menangis dan berdoa “Dewi Durga, tolong buatlah kondisi Nisha menjadi lebih baik, jika terjadi sesuatu padanya maka aku tidak akan bisa bertahan hidup”. Nithin datang menyadarkan lamunan Janki dan berusaha untuk menguatkan hati Janki. Nithin berkata pada Janki “Kak percayalah pada dewa, dia tidal akan membiarkan apapun terjadi pada Nisha”. Janki mengatakan pada Nithin “ terima kasih, Nithin.., jika kau tidak menekan kunci dari bawah hari ini maka kekhawatiran ku tentang Nisha akan membunuh ku”.
Nithn mengatakan pada Janki “bagaimana kau bisa mati begitu saja?”.., aku ada disini”.., tolong jangan pedulikan apa yang sudah ibu katakan, kau tahu betapa prosesifnya ibu terhadap Nisha dan sekarang jangan biarkan ibu melihat mu atau ibu akan membuat keributan lagi.., begitu aku tahu tentang keadaan Nisha aku akan menelpon mu”. janki hanya menangis dan menganggukan kepalanya. Nitihn berkata “Jagalah diri mu sendiri, kak” dan kemudian memeluk Janki. Janki berkata pada Nithin “ aku akan duduk dikuil, jika kau tahu seusatu tentang nisha beri tahu aku”. Janki pergi ke kuil rumah sakit.
Nitih datang menemui ibunya (Asha) namun Asha menolaknya, Asha mengatakan “Janki yang sudah melakukan semua ini, dia tidak bisa membelikan sepeda motor, jika memang Janki menganggap Nisha sebagai adik perempuannya sendiri, hari ini pasti dia akan membawakannya .., Janki membalaskan dendam pada kum kaerna aku telah menyuruhhnya untuk melakukan pekerjaan”.., aku selalu mendidik Nisha.., tapi aku tidak memberikan pendidikan padanya.., yang aku lakukan hanyalah menyuruhnya bekerja”.., tapi apa yang bisa aku lakukan?”.., keluarga seperti apakah ini ?”.., tidak ada pencari nafkah, lalu bagaimana aku akan menjalankan rumah tangga?”.., bagaimana aku akan memberikan makan pada semua orang?”.., itulah sebabnya Janki harus mencari pekerjan.., tapi Janki telah membalaskan dendam itu untuk ku!”. Janki sejak tadi mendengarkan keluhan Asha dari kejuhan dan ia sudah tidak tahan lagi dan datang menemui Asha (Ibu tirinya).
Janki mengatakan pada Asha “Kau sangat berarti untuk diri ku.., kau dan juga Asha sangat berarti untuk ku”. Asha tidak mau mendengarkan Janki dan mengusirnya “Tidak.., kau pergi saja dari sini, pergi saja kau dari sini.., pergilah aku tidak mau melihat wajah sial mu itu”.., untuk pernikahan Nisha, aku sudah berdoa begitu banyak.., aku sangat ingin Nisha menikah dan meninggalkan rumah ini.., tapi sekarang biarkan aku yang akan memberitahu mu.., jika hari ini sesuatu yang buruk terjadi padanya, maka aku akan sangat mengutuk mu.., tidak akan ada yang hidup dengan damai selama sisa hidup ku”. Asha menangis dan berpaling, Janki mencoba untuk menahannya untuk pergi “Ibu jangan katakan itu pada ku.., aku tidak bermaksud untuk melakukan semua ini dengan sengaja..”aku telah kehilangan pekerjaan ku”
Asha, Srivastav dan Nithin terkejut, Asha marah dan menghempaskan tangan Janki. Srivastav (Ayah Janki) bertanya pada Janki “Apa.., kau telah kehilangan pekerjaan mu?.., kenapa kau tidak memberitahu ku?”. Janki mengatakan paca Srivastav (ayahnya) “apa yang harus aku katakan pada mu?”.., Bagaimana aku bisa memberitahu mu?”. asha dengan ketus bertanya pada Janki “Apa yang sudah kau katakan kali ini?”.., mengapa mereka memecat mu?”. janki menjawab pertanyaan Asha (Ibu tirinya) “Ibu, aku tidak membuat kesalahan apapun .. , teapi teman ku telah diananiyaya, mereka yang sudah menghentikan ku kerja”. Asha marah dan bertepuk tangan untu Janki dan berkata dengan sinis “Luar biasa!”.., Janki sudah tidak bisa lagi menangani rumahnya, tapi dia ingin melakukannya sebagai pelayan sosial”..”aku akan memberitahu mu untuk pergi sekarang dan meminta maaflah dan dapatkan kembali pekerjaan itu dari mereka!”.., “ janki, Izinkan aku untuk mengatakan hal ini, mungkin atau tidak mungkin kau mendapatkan pekerjaan , tapi jika Nisha tidak menikah dan jika dia tidak mengucapkan selamat tinggal pada keluarga ini, maka aku akan memperingatkan mu bahwa seseorang di keluarga ini pasti akan mati”. Srivastav, Nithin dan Janki tersentak kaget mendengarnya. Asha berusha untuk pergi dan Janki kembali mencoba untuk menghentikannya, Nithin mengejar ibu mereka dan Janki menangis sedih di pelukan ayahnya Srivastav.
Para wartawan terus mendesak tuan Ram Shastri “Marri lihat kamarnya”.., bukalah kamarnya “. Wartawan lainnya mendesak “Tunjukkan kamar itu pada kami, buka pintunya”. Ram mengatakan pada semua wartawan “begitu aku mengatakan sesuatu, aku tidak akan mengulanginya lagi bahkan untuk diri ku sendiri”. Wartwan mengatakan pada Ram “ Tuan Shastri, beritahu pada kami mengapa kau menyembunyikan Hrash!”. Ram mengatakan dengan sangat marah dan menyangkal atas semua tuduhan wartawan itu dan berkata dihadapan banyak wartwan “ Aku tidak menyembunyikannya!.., jika kau ingin menyebarkan rumor palsu tentang Harsh, jika kau ingin menulis maka tulislah juga tentang prestasinya.., beritahu pada mereka bagaimana Harsh telah membuat perusahaan kecil tumbuh menjadi besar dengan merek internasional!” .., tulislah tentang Harsh yang telah menciptakan pekerjaan!”.., dia yang telah menciptakan peluang!”.., dia yang telah membuat kota kecil seperti Darbahnga menjadi benar-benar terkenal.., tulislah tentang semua itu!”.
Wartwan mengatakan “ Ram Shastri.., kau sedang berbohong pada kami, sampai berapa lama lagi kau akan berbohong?”. Rajesh kesal dan marah”cukup sudah, aku sudah sangat muak dengan mu, enyahlah kau dari sini!”. Semua wartawan kembali diusir menginginkan bahwa mereka ingin mendapatkan jawaban. Savita membawa masuk suaminya Ram, namun pandangan Ram measih memandangi para wartawan itu lalu kemudian menabrak meja. Savita dengan nada pelan berkata pada Ram “Kita harus membuat keputusan tentang Hrars”.., hanya ada satu pilihan untuk kita.., Kita harus menikahkan Harsh!”. Ram dan semua keluarganya terkejut saat mendengar ide Savita.
Janki masih dikuil rumah sakit, ia masih berdoa untuk kesembuhan Nisha”Dewi durga, lindungilah Nisha.., dia berjuang untuk hidupnya dan melawan kematiannya, jangan biarkan sesuatu terjadi padanya”. Janki menangis sedih.
Nenek memanggil harsh dan ia terkejut saat melihat sekeliling kamar dan tidak menemukan cucunya, nenek bertanya-tanya “ Harsh pergi kemana?”. Diluar rumah keluarga Shastri, wartwan yang sedang mengotot tentang keberadaan Harsh mendapatkan telepon dan berkata “ aku akan mencoba hal yang terbaik, tapi aku tidak bisa mendapatkan berita terbaru”. Wartwan itu mengecek saku celanannya dan ia kehilangan kunci, Wartwan mengatakan “aku lupa kunci ku tertinggal di dalam”. Kemudian sambungan teleponnya terputus. Lalu wartawan itu kembali berjalan masuk kerumah keluarga Shastri, disisi lain Harsh sedang berjalan menuruni anak tangga, sementara itu wartawan masih belum menyadari kehadiran Harsh, ia masih mencari kucinya di bawah kolong meja, ia menoleh dan saat itu ia melihat sesoarang dan bertanya-tanya “Mungkinkah orang itu Harsh Shastri, aku akan mencari tahu sekarang juga”. Wartawan tetap memfokuskan pandangannya pada sosok Harsh.
Savita dan Vanndana datang kehadapannya “ Ini kunci mu, kunci itu telah tertinggal disini”. Savitri memegang kunci itu berkata “ bukankah kau sedang mencarinya?”. Savitri memberikan kuuncinya, rajesh datang mengajak Harsh untuk ikut bersama dengannya , Vanndana terus memperhatikan situasi bahwa Harsh telah aman bersama dengan Rajseh, wartwan itu pergi dari rumah mereka.
Savita mengatakan “Itu tadi jalan keluar yang sangat sempit”. Vanndana mengatakan pada Savitri “Bu, hari ini kita telah beruntung”. Itulah sebabnya kita bisa kabur, tapi apakah kita harus melakukan sesuatu untuk Harsh?”.., sekarang kita hampir saja tertangkap dua kali, mungkin saja lain kali akan terungkap”. Savita terlihat sangat gelisah”.
Dirumah sakit, Janki masih dikuil dan berdoa pada dewi Ambee”Biarkanlah ada keajaiban, tolong bantuaku untuk mengatasi semua masalah ini.., aku akan bersedia melakukan apa saja tapi tolong selamatkan keluarga ku”.
Ram bertanya pada panggilan di ponselnya menanyakan tentang nama orang yang telah mengirimkan email “Siapakah namanya?”. Kemudian mendapatkan info bahwa gadis itu adalah Janki. Rajesh datang menemuinya mengatakan keluhannya pada Ram “Ayah , hari ini Harsh hampir saja tertangkap berkali-kali wartwan editor itu terus mengincarnya/memburunya, seperti tidak ada hari esok dan editor itu hampr saja menangkapnya sekali lagi, orang-orang itu tidak akan duduk diam, mereka pasti masih saja mengintai”. Savita berkata tentang kekhawatirannya “ “Rhasia Harsh pasti akan terungkap kapan saja”. Ram berkata “ tapi kita tidak akan membiarkan hal itu terjadi, kita tidak akan membiarkan reputasi Harsh dirusak bagaimanapun caranya, kita yang harus mengakhiri cerita ini”. Ram meminta pada Rajesh untuk segera menyiapkan mobil bahwa mereka harus pergi ke Dharbanga. Rajesh bingung denga keputusan Ram dan bertanya “ Dharbanga, kenapa kesana.., ada apa disana?”. Ram bahkan menolak untuk sesorang membatah perintahnya “ Begitu aku mengatakan sesuatu aku bahakn tidak akan bisa mengulanginya untuk diri ku sendiri”. Savita menatap Rajesh dan menganggukan kepalanya sebagai isyarat bahwa ia hrus mematuhi apa yang telah di perintahkan ayahnya kepada dirinya. Ram berkata pada Savita “Jangan kahwatir, aku akan segera kembali, setelah aku menyelesaikan masalah Harsh”.
Nitih datang menemui Janki di kuil membawakannya segelas minuman, ia membangunkan Janki “ Dewa telah mendengarkan doa kita.., Nisha telah keluar dari bahaya”. Janki terkejut saat mendengarkannya “Apa?”. Nithin menyakinkan Janki “Iya.., Nisha akan keluar dalam beberapa waktu”. Janki bertanya “apakah sekarang aku boleh bertemu dengan Nisha?”. Nithin meminta agar Janki meminum teh yang telah di bawakannya, Janki mengatakan pada Nithin “tunggu sebentar”. Janki kembali kekuil dan tersenyum di hadapan patung dewi. Nithin mengatakan pada Janki “Kak, ada beberapa tagihan rumah sakit yang harus di bayarkan.., minumlah teh mu”.
Janki bertanya-tanya mendapatkan panggilan telepon dari Ashok” Mengapa sekarang Ashok Menelpon ku?”. Janki menyangkat posnelnya “Ya Ashok.., berti tahu aku, apa yang telah terjadi?”. Apakah semuanya baik-baik saja?”. Ashok sangat marah mengatakan pada Janki “Disini tidak ada yang baik-baik saja.., email mu telah menghancurkan segalanya”.., kau ada dimana?”.. bisakah kau datang ke kantor?. Janki terkejut “Apa?.., Ashok aku tidak bisa datang sekarang.., nisa meminum racun, aku ada dirumah sakit, dengarkan aku sekarang aku tidak bisa datang”. Shyam berkata pada ashok “ beri tahu janki, jika dia mau gaji bulanan ini maka dia dia harus datang atau dia bisa melupakan uang itu!”. Jani berkata”gaji?”. Janki berfikir “ aku harus mendapatkan uang itu dalam keadan apapun”. Ashok memanggil Janki. Janki mengatakan “Dengarkan aku Ashok.., sekarang aku akan datang ke kantor”.
Shyam bertanya pada Ashok dengan penuh kekesalan “Apakah Janki akan datang?”.., Baiklah aku sduah mendengarnya kau dan janki saat itu sedang dekat”. Ashok menjadi tegang “tidak pak”. Shyam tidak memeprcayainya, Ashok mengulangi jawabannya dengan ketakutan “Tidak.., tidak.., tidak pak”.. dia hanyalah rekan kerja ku saja (kolega)”. Shnyam menganggukan kepalanya.
Janki datang kekantornya saat diluar sedang hujan deras dimalam gari, Shyam menatapnya dengan tajam dan berkata “Ashok lihatlah itu, rekan mu itu sudah datang”. Shyam meledek Janki “selamat datang Nona Janki”. Janki hanya terdiam, Shyam mengatakan pada Janki “ Bisakah kau masuk keruangan . janki bertanya “teapi kenapa dirungan itu?”. Suara Ran Shastri terdengar lantang berkata “kerena akulah yang telah menunggu mu disini”. Semua orang terkejut. Ashok memberitahu Janki bahwa orang itu adalah Ram Shastri.., kau telah mengrimkan email dan dia ingin bicara dengan mu tentang hal itu.., masuklah”.
Janki dengan ragu masuk kedalam ruangan dimana Ram Shastri telah menunggunya, aingin bertiup sangat kencang dan menghempaskan jendela. Wajah Ram sangat serius, Janki ketakutan saat itu. Ram meminta agar Janki menutup rapat pintu, Janki sangat ketakutan dan kembali pada pintu lalu menutupnya. Ram bertanya pada Janki”apakah kau termasuk dalam keluarga yang sangat kata?”. Janki menjawab “Tidak pak”. Ram bertanya pada Janki “ siapa lagi yang memiliki pekerjaan dan menerima gaji, selain diri mu?”. Janki menjawab “Hanya aku satu-satunya yang mencari nafkah (pencari nafkah)”. Ram bertanya kembali “Hanya kau satu-satunya yang berpenghasilan”. Janki menjawab dengan sopan “Iya”. Ram melepaskan jaketnya di hadpaan Janki, Janki sangat tegang saat itu. Ram mengatakan pada Janmi “hanya kau saja satu-satunya yang berpenghasilan, tapi kau telah mengeluhkan bos mu kepada atasannya!”.., meskipun kau membutuhkannya tapi kau tidak mau mempertimbangkannya.., apa yang telah di katakan Shyam pada mu, apakah kau punya akal sehat atau kau memang bodoh?”. Janki mengatakan “ kau bisa mempertimbangkan apapun yang kau inginkan, tapi itu kejujuran untuk ku”. Ram tersentuh dengan ucapan Janki. Ram mendekati Janki, Janki ketakutan dan berjalan mundur, Ram mengeluarkan kotak merah dan menunjukkan cincin di hadapan Janki, Ram mengatakan pada Janki “Apakah kau mau menikah?” janki terkejut dan menatap Ram, Ram memperjelas ucapannya pada Janki Maukah kau menjadi istri dari putra ku Harsh?”.., kami mencari gadis yang baik untuk Harsh , seorang dengan integritas dan yang memahami pentingnya hubungan”. Janki hanya terdiam, ia berkata pada Ram dengan terbata-bata “Pak..pak..”. Ram mengatakan pada Janki “kau pasti sedang bertanya-tanya pada Janki tentang bosmu dan kau karyawannya dan bagaimana itu tidak mungkin bisa terjadi diabat ke-21.., perbedaan kelas tidak maslah .., setidaknya itu tidak aka nada perbedaannya untuk kami, dengarkanlah baik-baik apa yang telah aku katakan.., kami telah banyak bertemu dengan gadis untuk Harsh, tapi mereka hanyalah mempedulikan uang dari pada putra ku”. .., tapi kau sangatlah berbeda, aku melihat rasa hormat untuk Harsh dimata mu”.., kau tahu bagaimana kau memperjuangkan kebenaran, seoarang gadis yang bisa mempertaruhkan segalanya untuk seorang teman pasti bisa berbuat banyak untuk suaminya.., apakah kau bisa mengerti itu?”.., seorang ayah tidak mengharapkan apapun dari menantu perempuannya.., Janki.., citra tentang Harsh yang kau miliki secara mental bukanlah siapa dia yang sebenarnya, maksud ku dia lebih baik dari pada itu.., Harsh pria yang baik hati dan sangat menghormati wanita, tapi sayangnya sesorang telah menghancurkan hatinya itulah sebabnyua Harsh tidak menikah.., tapi sekaranglah saatnya dia untuk bahagia dengan pasangan hidup yang sempurna sepreti mu”. ram menunjukkan cincin itu pada Janki dan berkata “apakah kau setuju?”.
Janki menyadari bahwa ia sangat mengidolakan Harsh karena diusianya yang snagat muda telah mendirikan kerajaan besar dan janki begitu sangat menghormatinya. Janki berkata pada Ram “pak terima kasih karena sudah menganggap ku layak untuk yuan Harsh, tapi aku tidak menganggap diri ku layak untuknya”. Ra,m hanya tersenyum.
Janki mengatakan pada Ram “Pak jangan salah paham”.. gadis yang akan menikahi Harsh pasti akan sangat beruntung, tapi aku tidak percaya jika aku bisa menyamainya, itulah sebabnya aku tidak bisa melakukannya. Ram mengatakan “Baiklah”.
Ketika Janki akan pergi, Ram mengatakan “Tunggulah sebentar” ram meberikan sebuah amplop padanya, ia berkata apda Janki “ Ambilah ini”. Janki menerimanya. Ram mengatakan Janki “ Simapan saja.., aku tidak ingin kehilangan calon menantu yang baik sekaligus karyawan yang baik pada hari yang sama, pikirkanlah apa yang telah aku katakan.., dan satu lagi..”Ram mengambilkan amplop yang lainnya, Ram mengatakan pada Janki “ saat kau kleuar..,m berikanlah amplop ini untuk Shyam”. Janki menyimpan amplopnya ketas dan membawa amplop untuk diberikan pada Shyam. Ram meminta Janki untuk kembali memikirkan tawarannya, dan apapun yang telah dikatakannya karena ia menunggu jawabaan dari Janki. Janki tersenyum dan Ram memberkatinya. Janki pergi dari ruangan Ram.
Setibanya Janki diluar, Ashok memanggil Janki dan menyadarkannya dari lamunannya, Ashok bertanya pada Janki “ Apa yang kau bicarakan?”. Shyam juga menanyakan hal yang sama “apa yang dikatakan tuan Ram pada mu?”. Janki menjawab “Pak dia (Ram) memminta ku untuk memberikan surat ini pada mu”. janki memebrikan amplop pada Shyam, Shyam membukanya dan ia terkejut saat membaca isi suratnya, Shyam terlihat kesal dan pucat “apa ini surat pemecatan ku”. Shayam marah dan bertanya pada Janki “apa yang telah kau katakan disana?>>, “apakah kau mengadukan dan mengeluhkan diri ku pada bos?”.
Janki mengatakan pada Shyam “Pak aku..”. shyam menggerutu dan berjalan pergi serta memarahi Janki”sekarang tunggu dan perhatikan saja apa yang akan aku lakukan untuk mu”. shyam pergi keruangan Shyam dan berkata pada Janki “aku tidak akan mengampuni mu”. Ashok pun panik, ia juga bertanya pada Jnaki “apa yang sebenarnya terjadi?”. Seroang karyawan pria datang mengatakan pada Ashok “Kau telah dipanggil keruangan”. Ashok kaget dan marah, ai meluapkan kekesalannya pada Janki “kekacauan apa yang kau buat sekarang?”. Ashok pergi keruangan Ram dan Janki hanya terdiam.
Janki berjalan pergi dari kantor itu, ia masih bimbang semua staff karyawan memperhatikannya, Janki keluar dari kantor angina bertiup kencang dan hujan masih mengguyur, Janki masih mengingat ketika Ram melamarnya untuk bersedia menikah dengan putranya Harsh. Janki berfikir dalam dilemanya “bagaimana aku bisa mengatakan ya pada tuan Ram?”.., bahkan jika mereka orang yang sangat berpengaruh tapi aku hanya mencintai Ashok.., aku hanya akan menikah dengannya”.
Nenek dan Harsh memasak di dapur, Nenek mengatakan pada Harsh “hari ini aku akan memberi tahu pada semua orang bahwa cucu ku sangat berbakat .., ia menjalankan bisnis dengan sangat baik tapi dia juga sangat pandai untuk membuat roti pipih”. Nenek meminta memohon agar Mohan datang dan memintanya untuk memotong bayam dengan cepat. Rajesh melihatnya dari kejauhan, ia berfikir dengan sinis “ Baiklah aku senang nenek bisa melakukan pekerjaan ini dengan sangat baik.., dengan begitu Harsh akan tetap tinggal disini dan merawat rumah, setidaknya ketegangan dikantor akan berakhir”. Nenek berbalik melirik kearah Rajesh dan berkata “jangan terlalu senang cucu ku, seseorang juga harus tahu bagaimana cara menangani rumah sekaligus menjalankan kantor”. Rajesh hanya menganggukkan kepalanya, nenek mengatakan “dengan melakukan pekerjaan rumah tangga tidak akan mengurangi aktifitas sesorang”.
Nenek mengatakan pada Harsh”Harsh cucu ku, dulu kakek mu juga pulang dari kantor membantu ku pekerjaan rumah tangga dan itulah mengapa aku sangat menyukainya.., kau tahu calan istri mu juga akan sangat beruntung”. Nenek sengaja melirik Rajseh, ia berfikir “aku tidak tahu apakah gadis itu akan mendengarkan apa yang telah di katakan oleh Rama”. Hujan sangat deras Janki berjalan pergi dan membuka payungnya.
Nenek berfikir “Ya dewa.., tolong kirimkanlah istri yang baik untuk cucu ku Harsh, begitu dia tiba pasti hidpnya akan membaik, sekarang kau pasti akan menikahinya.
Janki berfikir “bahkan aku tidak bisa memikirkan siapun selain ashok.., mungkin Harsh idolaku tapi aku tidak akan menikah dengannya. Layar terpecah menjadi dua antara janki dan Harsh.
Comments
Post a Comment